Minggu, 06 September 2009

Model Pelayanan


KOTAK KONSULTASI
SEBAGAI MEDIA PELAYANAN TIDAK LANGSUNG
MEMFASILITASI SISWA DALAM MEMANFAATKAN LAYANAN KONSELING DI SEKOLAH



Program pelayanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan program di sekolah, oleh karena itu upaya Konselor beserta aspek-aspek yang melingkupi dalam program layanannya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan kegiatan yang diarahkan kepada pencapaian tujuan pendidikan, sebagai bagian yang terpadu program BK diarahkan kepada upaya memfasilitasi siswa dalam mengembangkan segenap potensi diri dan untuk membantu mencapai tugas perkembangan.
Tantangan – Tantangan yang ada
Sebagai tenaga pendidik yang melakukan tugas dalam memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, saat ini beban tugas konselor bukan lagi dihitung dari jumlah konseli, akan tetapi dari jumlah kegiatan BK perminggu yang harus meliputi seluruh kegiatan dalam pola 17+ (pola tujuh belas plus), hal ini sangat penting untuk dipenuhi sebagai upaya obtimalisasi pelaksanaan tugas profesional dan juga untuk menjawab tantangan-tantangan yang ditemui selama ini disekolah, seperti masih dipertanyakannya tentang tugas yang sebenarnya karena selama ini belum terlihat jelas perbedaan antara tugas Guru Pembimbing dengan wali kelas dan kesiswaan, serta adanya anggapan tentang sangat ringannya pekerjaan Guru Pembimbing.
 

Penggunaan Kotak Konsultasi
 
Pelayanan BK di sekolah dapat diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung, pelayanan langsung berupa layanan secara klasikal, kelompok dan perorangan, sedangkan layanan tidak langsung dapat berupa media cetak, papan bimbingan dan penyediaan kotak masalah / kotak konsultasi.
karena disebabkan oleh permasalahan-permasalahan sebagai berikut :
Siswa merasa malu untuk mengungkapkan masalahnya, lebih banyak siswa yang memiliki sifat tertutup maka dalam wawancara konseling dibutuhkan lebih banyak waktu untuk dapat mengungkap masalah mereka.
Kurangnya waktu yang dibutuhkan untuk memanggil siswa, walaupun Guru Pembimbing memiliki hak untuk melakukan pemanggilan tetapi waktu yang tersedia sangatlah terbatas karena siswa tidak boleh dirugikan dalam mengikuti pelajaran.
Tidak adanya tempat yang memenuhi syarat untuk melakukan wawancara konseling, diperlukan tempat yang dapat mendukung terhadap azas kerahasiaan dan kenyamanan siswa dalam proses konseling, keterbatasan ini juga berpengaruh terhadap minat siswa untuk memanfaatkan layanan konseling.

Adanya keterbatasan kemampuan dan keterampilan dari tenaga/petugas BK, tidak semua sekolah memiliki tenaga profesional (konselor), banyak guru yang diberi tugas tambahan memberikan layanan BK di sekolah sehingga layanan konseling secara benar tidak dapat diberikan, melalui media ini masalah
Walau bagaimanapun konseling harus tetap ditempatkan sesuai dengan porsinya sebagai inti dari kegiatan BK yang diselenggarakan di Sekolah, bantuan pemecahan masalah tidak hanya melalui layanan konseling saja, konsultasi lebih sering diberikan sepanjang masalah hanya cukup bisa ditangani melalui layanan tersebut, kotak konsultasi merupakan alternatif yang dapat dipakai dalam mengatasi masalah tersebut untuk memfasilitasi siswa yang kurang memiliki keberanian mengungkapkan masalahnya secara langsung, pelayanan ini juga tidak memerlukan waktu secara terjadwal sehingga dapat dilakukan kapan saja serta tidak memerlukan tempat seperti yang disyararatkan dalam konseling.
Untuk memfasilitasi siswa introvert
Pelayanan BK harus diberikan pada seluruh siswa tanpa terkecuali, lebih-lebih mereka yang sedang dalam kesulitan karena pengaruh proses perkembangan psikologisnya, anak usia puber dan remaja pada jenjang pendidikan menengah banyak mengalami kesulitan-kesulitan dalam hal penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan yang tengah terjadi dalam dirinya maupun penyesuaian diri terhadap lingkungan, hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap KES, tidak semua siswa yang memiliki KES-T dapat teridentifikasi oleh konselor, tidak semua masalah bisa tampak dalam perilaku siswa dan tidak semua dari mereka berani mengungkapkan masalahnya pada konselor, konseling akan sangat efektif bagi siswa ekstrovert, untuk membantu siswa introvert dapat digunakan media kotak konsultasi, dengan media tersebut siswa dapat memiliki keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya.
Prosedur penggunaan Kotak konsultasi dalam membantu siswa introvert adalah:
Mensosialisasikan layanan konsultasi melalui pengisian kotak kepada seluruh siswa, pembimbing menjelaskan bahwa dengan media tersebut siswa tidak harus diketahui oleh siapapun bahwa mereka memiliki masalah, kemudian dijelaskan pula tentang prosedur pemberian bantuan dalam cara ini.
Siswa menuliskan masalah yang akan diajukan dalam selembar kertas tanpa memberikan identitas dirinya, akan tetapi cukup mencantumkan nama samaran yang mereka buat dan hanya diketahui mereka sendiri kemudian memasukkannya dalam kotak yang tersedia.
Pembimbing membaca pengungkapan masalah dan memberikan jawaban secara tertulis dalam kertas tertutup yang disampulnya tertulis ditujukan kepada nama seperti yang dituliskan oleh pengirim.
Untuk menyampaikan jawaban pembimbing bekerja sama dengan petugas di sekolah yang dipercaya, surat-surat jawaban terkumpul beserta daftar nama samaran dan tanggal pengambilan untuk pengatministrasian.
Siswa mengambil jawaban dengan menyebutkan nama yang digunakan, petugas menyerahkan surat jawaban sesuai dengan nama dan mencatat tanggal pengambilan.
Sebagai media dalam mengidentifikasi masalah untuk tahap pra-konseling
Selain digunakan untuk membantu siswa introvert media ini juga dapat digunakan sebagai langkah sebelum memberikan layanan konseling,
Dari pengalaman dalam menggunakan layanan melalui penggunaan kotak konsultasi dapat ditemukan adanya keterbatasan-keterbatasan didalamnya yaitu :
Tidak semua jenis masalah dapat dibantu melalui cara ini seperti masalah dalam tingkahlaku memerlukan proses wawancara konseling, siswa harus belajar langsung bagaimana cara berperilaku baru seperti yang diharapkan.
Kedua melalui pengungkapan masalah secara tertulis pembimbing akan kesulitan dalam menganalisis masalah, sebelum melakukan analis masalah diperlukan proses assesment agar pemecahan masalah yang diberikan dapat tepat betul-betul sesuai dengan kebutuhan siswa, karena masalah-masalah / kesulitan dari siswa yang sebenarnya mungkin lebih dari apa yang telah ia tuliskan, oleh karena itu perlu eksplorasi mendalam dari berbagai aspek pada diri siswa melalui pengamatan secara langsung dalam wawancara, bukan saja pengamatan terhadap pengungkapan siswa secara verbal akan tetapi juga secara nonverbal seperti perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran yang tersirat.
Yang ketiga melalui pelayanan ini siswa tidak memperoleh pengalaman seperti dalam proses konseling semestinya, karena pada dasarnya bimbingan adalah bantuan yang diberikan dengan tujuan agar pada akhirnya siswa dapat mencapai kemandirian maka pengalaman siswa dalam proses konseling adalah lebih penting dari pada hasil ( pemecahan masalah dari pembimbing ), melalui pengalaman tersebut siswa akan memperoleh pertumbuhan kearah kemandirian karena siswa secara langsung belajar bagaimana mengidentifikasi kesulitan-kesulitannya, menganalisis masalah yang sebenarnya ia hadapi, merumuskan tujuan dan melakukan cara dalam pemecahan sehingga ia dapat memiliki keterampilan problem solving yang dapat mereka terapkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang akan mereka temui nanti.
Kotak konsultasi digunakan untuk memfasilitasi siswa yang kesulitan dalam mengungkapkan masalah secara lisan, layanan ini bukanlah satu-satunya yang dilakukan sebagai bantuan pemecahan masalah siswa, media ini dapat digunakan sebagai tahap awal agar siswa dapat mengetahui bahwa layanan BK dapat membantu siswa yang sedang menghadapi masalah, media ini sangat cocok digunakan apabila sekolah tidak menjadwalkan kegiatan BK dalam jam pembelajaran, karena kurang adanya kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa bimbingan maka melalui media ini pembimbing melakukan pelayanan bantuan pemecahan masalah. Di sekolah-sekolah yang telah menjadwalkan layanan BK dalam jam pembelajaran penggunaan media ini tidak dianjurkan sebagai pokok dari layanan bantuan pemecahan masalah, karena pembimbing sudah dapat memiliki banyak kesempatan dalam mensosialisasikan layanan bantuan pemecahan masalah.








1 komentar:

Sri mengatakan...

teknik konseling trauma jg bisa dterapkan utk bimbingan kelompok